Monday, May 10, 2010

Pengelolaan & Daya Tarik Museum Le Mayeur sebagai Pariwisata Budaya

1 komentar
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Museum, berdasarkan definisi yang diberikan International Council of Museums, adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Karena itu ia bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis, dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran imajinatif di masa depan. Museum adalah tempat dimana kebudayaan dan keseniaan dari jaman daahulu yang bernilai seni tinggi bisa dilihat
Museum adalah tempat dimana kebudayaan dan keseniaan dari jaman dahulu sampai jaman sekarang yang bernilai seni tinggi bisa dilihat. Salah satunya adalah museum Le Mayeur yang menyajikan lukisan-lukisan bergaya impresionis dengan perpaduan kesenian Bali dalam tema lukisan yang terdapat di Museum Le Mayeur.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka ruang lingkup permasalahan dalam penelitian ini dapat dituliskan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pengelolaan Museum Le Mayeur?
2. Apakah yang menjadi daya tarik Museum Le Mayeur?
1.3. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana pengelolaaan Museum Le Mayeur
2. Untuk mengetahui daya tarik yang ada di Museum Le Mayeur.
1.4. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang dapat kita diambil dari penelitan ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Akademis
Secara akademis melalui penelitian ini mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk menambah pengetahuan tentang museum khususnya Museum Le Mayeur dan manajemen pengelolahannya.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat sekitar sehingga bisa mengembangkan potensi yang ada di daerahnya untuk bisa mengelola Museum le Mayeur dan mengembangkannya secara mandiri.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Wisata Budaya
2.1.1 Pengertian Wisata Budaya
Wisata budaya adalah aktivitas pariwisata dengan obyek budaya(Hurrington, 1998, p.212). Adapun deskripsi lebih lengkap dari wisata budaya ini bahwa aktivitas pariwisata dapat dianggap sebagai wisata budaya jika obyekpariwisata ini adalah melingkupi semua budaya-budaya suatu komunitas.
2.1.2. Tujuan wisata budaya
Wisata budaya juga mempunyai serangkaian tujuan tertentu sehingga mendapatkan predikat wisata budaya. Menurut Hurrington (1998, p.215), wisata budaya ini meliputi:
a. Pengenalan karakteristik suatu komunitas
b. Menghidupkan budaya
c. Tujuan-tujuan khusus
2.2 Daya Tarik Wisata Budaya
Menurut Sahertian (2003:1) menyatakan: “Daya tarik sebuah wisata merupakan pesona-pesona yang dapat ditampilkan oleh sebuah obyek wisata.”
2.2.1. Atraksi
Sahertian (2003:2), menyatakan atraksi merupakan sebuah perilaku-perilaku yang bersifat akrobatik yang mampu memberikan perhatian khusus bagipengunjung. Atraksi bisa beragam tergantung pada berbagai kesenian yang dimainkan. Seperti untuk tradisi Tionghoa, maka atraksi ini seperi barongsai, bela diri dan lainnya.
2.2.2. Pembauran
Priyanti (2003:3) menyatakan: “Pembauran adalah perpaduan antara dua budaya atau lebih yang berbeda untuk disatukan dengan tidak menghilangkan cirikhas dari setiap budaya yang bersangkutan.” Pembauran ini bisa berlangsung cepat maupun lambat, dan tergantung pada kemampuan untuk menjiwai setiap nilai budaya yang berbaur.
2.2.3. Produk
a. Pengertian Produk
Menurut Tjiptono (1997:95), produk didefinisikan sebagai “pemahaman subyektif dari produsen atas sesuatu yang bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan masyarakat, sesuai dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli pasar
b. Klasifikasi Produk
Produk dapat diklasifikasikan menurut berbagai sudut pandang seperti klasifikasi berdasarkan wujudnya, daya tahan, dan tujuan konsumsi. Menurut Tjiptono (1997:98), produk berdasarkan wujudnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok utama, yaitu:
♦ Barang
♦ Jasa (Services)
Menurut Tjiptono (1997:98), ditinjau dari aspek daya tahannya, produk dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
♦ Barang tidak tahan lama (nondurable goods)
♦ Barang tahan lama (durable goods)
2.2.4. Promosi
Promosi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu program pemasaran. Betapapun berkualitasnya produk, bila masyarakat belum pernah mendengarnya dan tidak yakin bahwa produk itu akan berguna bagi mereka, maka mereka tidak akan pernah membelinya.
2.3. Sejarah Museum Le Mayeur
Nama Le Mayeur diambil dari nama seorang Pelukis andrien Jean Le Mayeur De Merpres yang lahir pada tanggal 9  Februari 1880 di Ixelles, Brussel, anak bungsu dua bersaudara dari ayah Andrien Le Mayeur De Merpres dan Ibu Louise Di Bosch. Pendidikan terakhirnya di Perguruan Tinggi Politeknik di Universitas Libre, Brussel dan bergelar Insinyur bangunan tetapi lebih menekuni bidang seni lukis.
Dalam meniti karirnya sebagai pelukis, Le Mayeur kemudian melanglang buana ke berbagai belahan  dunia seperti Perancis, Italia, Maroko, Tunisia, Aoljazair, India, Thailand, Kanboja, Tahiti dan akhirnya ke Bali.  Le Mayeur menginjakkan kaki pertama di Bali pada tahun  1932 melalui jalan laut dan mendarat di Singaraja kemudian melanjutkan perjalanan ke Denpasar, dengan menyewa sebuah rumah di Desa Kelandis.  Di tempat inilah kemudian Le Mayeur berkenalan dengan seorang penari Legong bernama Ni Nyoman Pollok kelahiran 03 Mart 1917.  Kecantikan dan keanggunan Ni Pollok  waktu menari menggugah hati Le Mayeur untuk menjadikan Ni Pollok menjadi  model dalam lukisannya. Seiring dengan perjalanan waktu hubungan Le Mayeur dengan Ni Pollok semakin intim dan berlanjut ke jenjang pernikahan.
Ketenaran Le Mayeur makin lama makin meningkat. Hal ini terbukti dengan banyaknya kunjungan-kunjungan dan bahkan dari pejabat tinggi negara seperti Presiden RI pertama Ir. Soekarno, Perdana Menteri India Pandir Jawaharlal Nehru dan lain-lain. Pada tahun 1956 Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan RI yaitu Bahder Djohan berkunjung ke rumah Le Mayeur. Beliau sangat terkesan dengan karya seni Le Mayeur, dan mencetuskan gagasan untuk menjadikan rumah tinggal Le Mayeur sebagai museum agar karya seninya dapat dilestarikan. Gagasan ini disambut baik oleh Le Mayeur maka pada tanggal 28 Agustus 1957 dengan akte hadiah nomor 37 Le Mayeur menghadiahkan hak miliknya kepada Ni Pollok dan pada hari yang sama Ni Pollok sebagai pewaris selanjutnya mempersembahkan kepada Pemerintah Indonesia berdasarkan akte hadiah nomor 38.
2.4. Lokasi Museum
Museum Le Mayeur terletak di tepi Pantai Sanur, termasuk dalam wilayah Banjar Pekandelan, Sanur Kaja. Untuk mencapai lokasi hanya dapat dicapai melalui jalan setapak yaitu pada ujung Jalan Hang Tuah ke kanan ± 70 m. Adapun  batas-batasnya adalah sebagai berikut:
- Sebelah Timur: Pantai Sanur
- Sebelah Barat: Penginapan Ni Pollok
- Sebelah Utara: Pura Dalem / Hotel Dewangkara
- Sebelah Selatan: Hotel Grand Bali Beach.
2.5. Transportasi
Jarak tempuh museum Le Mayeur dengan tempat-tempat penting lainnya seperti
- museum - Denpasar ± 7 km (± 15 menit perjalanan)
- museum - Bandara Ngurah Rai ± 14 km (30 menit perjalanan)
- museum - Gilimanuk ± 141 km (± 2 jam perjalanan)
- museum - Padang Bay ± 60 km (± 1 jam perjalanan)
- museum - Terminal Ubung ± 10 km (± 20 menit perjalanan)
- museum - Terminal Kreneng ± 5 km (± 10 menit perjalanan)
- museum - Terminal Batubulan ± 7 km (± 15 menit perjalanan)
- museum - Kuta ± 15 km (± 45 menit perjalanan).
2.6. Koleksi
Koleksi utama museum Le Mayeur adalah berupa 88 buah lukisan  karya maestro terkenal  berkebangsaan Belgia yaitu Andrien Jean Le Mayeur de Merpres dengan aliran/gaya impresionis. Dari 88 buah lukisan tersebut:
04 buah dibuat pada tahun 1921, 04 buah dibuat pada tahun 1927, 03 buah dibuat pada tahun 1928,28 buah dibuat pada tahun 1929,03 buah dibuat pada tahun 1930,14 buah dibuat pada tahun 1938,23 buah dibuat pada tahun 1942, dan10 buah dibuat pada tahun 1957.
47 lukisan mengambil tema Bali, sedangkan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut;28 buah diatas kanvas,25 buah diatas hand board, 06 buah diatas tripleks,07 buah diatas kertas dan22 buah diatas Bagor.
2.7. Pengelolaan Museum
Pada awal tahun 50-an, kondisi kesehatan Le Mayeur mulai menurun. Pada tanggal 27 Mei 1958 Le Mayeur Sang Maestro ygn berusia 78 tahun itu meninggal dunia dan jenasahnya dimakamkan di pemakaman keluarga Ixelles, Brussel. Pengelolaan selanjutnya dialkukan oleh Ni Pollok. Pada tanggal 27 Juli 1985 Ni Pollok meninggal dunia, maka perusahaan seni lukis ditinggalkannya kini milik Pemerintah Indonesia yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Propinsi Bali.
Saat ini Museum Le Mayeur dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Bali. Pemeliharaan daya tarik wisata Museum Le Mayeur ini rutin dilakukan oleh pegawai-pegawai museum setempat seperti melakukan pembersihan gedung dan benda-benda yang dipamerkan secara berkala. Pengelolaan Museum Le Mayeur ini juga mengambil dana melalui retribusi atau pungutan biaya masuk ke museum yang bisa rincian sebagai berikut ;
- Perorangan (1 -- 9 orang)
- Anak-anak: Rp 1.000,-/orang
- Dewasa     : Rp 2.000,-/orang
- Rombongan (10 orang ke atas)
- Anak-anak: Rp     500,-/orang
- Dewasa     : Rp 1.000,-/orang
Jadwal Kunjungan :
Sabtu - Kamis : 08.00 - 15.00 WITA
Jumat               : 08.00 - 12.30 WITA
Tutup                : Libur resmi.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Museum Le Mayeur merupakan salah satu museum terbaik dengan pengelolaan yang baik di bawah Pemerintah Daerah Propinsi Bali dengan koleksi 88 lukisan dari sang maestro Le Mayeur. Semua lukisan itu merupakan karya terbaik dan curahan hati beliau yang dilukis dalam berbagai instrument.
Museum Le Mayeur sangat layak dikunjungi sebagai bentuk dari kepedulian akan budaya Bali yang semakin pudar oleh jaman dan sebagai suatu inspirasi untuk pelukis-pelukis muda di Bali agar bisa bersaing dan melesatrikan budaya bali melalui seni dan budaya.

Related Post:

1 komentar:

  • February 22, 2013 at 2:15 PM
    Anonymous :

    In short, they become obsessed by the grass is
    always greener syndrome where everyone else's relationship and their own past lovers are elevated to the status of perfection. There is an opportunity for parents to offset the teacher: pupil ratio through practice at home. ' The
    Rooneys are a great family who turned a football franchise into a traveling nation full of fans across the
    United States. In exchange you'll have to pay a bit more for the GT 220, as most models are around $60 or $70 dollars. In doing so, it becomes the only potential choice for best gaming PC under 500 bucks in the desktop category. But there is a magic formula. Today, the scenario is entirely different. Nevertheless, we're now moving on and talking
    about the top Xbox 360 games for 2012. Today, the company
    has over 1. When you set out to influence another’s feelings for you,
    are you not interfering with that person’s free will.

    Look into my web blog :: Benutzer:TomokoWis - Perspektiventage

Post a Comment

"DO FOLLOW" plugin installed, comment on this site and improve your pagerank