Kebudayaan adalah esensi kehidupan bangsa. Mengenal kebudayaan bangsa berarti mengenal aspirasinya dalam segala aspek kehidupannya sedangkan pariwisata adalah keseluruhan gerakan manusia yang melakukan perjalanan atau pesinggahan sementara dari tempat tinggalnya ke suatu atau beberapa tempat tujuan di luar lingkungan tempat tinggalnya yang didorong oleh beberapa keperluan atau motif tanpa bermaksud mencari nafkah tetap.
Oleh karena itu masalah kebudayaan dan pariwisata menjadi sangat menarik, terutama dalam era globalisasi yang telah memasuki seluruh penjuru dunia dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan komunikasi. Bukan negara-negara yang berkembang dengan budaya etnisnya yang menonjol, tetapi juga negara-negara maju pun menghadapi tantangan-tantangan baru, meskipun integrasi nasional mereka sudah mantap.
Mereka mencari jalan keluar untuk mengatasi ekses-ekses negatifnya. Gobalisasi merupakan gejala yang tidak dapat dihindarkan, tetapi sekaligus juga membuka kesempatan yang luas. Gejala ini mulai menonjol sejak awal abad ke-20 dan mengakibatkan banyak hilangnya keaslian watak dan kemandirian budaya bangsa-bangsa. Globalisasi disebabkan oleh kemajuan-kemajuan Iptek, terutama di bidang teknologi komunikasi yang membawa dunia saling berdekatan dan mudah berkomunikasi melalui berbagai media. Yang paling berpengaruh adalah perkembangan dari dunia pertelevisian.
Bali sebagai bagian dari Indonesia, pulau yang kecil tapi amat terkenal di dunia, berkat kebudayaanya melalui komunikasi pariwisata, tak dapat menjauhkan diri dari arus globalisasi ini. Bahkan kelihatannya Bali makin intensif berhubungan dengan perkembangan dunia kepariwisataan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi komunikasi itu sendiri. Masalahnya sekarang apa yang harus dilaksanakan untuk menghadapi tantangan di bidang kebudayaan dan pariwisata Bali sehubungan dengan terjadinya globalisasi tersebut?.
Persoalan menyangkut kepariwisataan sampai kapanpun selalu menarik dibicarakan. Menarik, mengingat, disadari atau tidak, pariwisata akan hadir selamanya, selama manusia hadir dimuka bumi ini. Tak seorangpun penghuni planet bumi yang berjuluk manusia ini luput dari kegiatan yang namanya wisata, rilek atau santai. Kita sisadari atau tidak dalam hidup ini pasti pernah menjadi turis atau paling tidak menjadi pelancong. Dengan demikian berarti kegiatan wisata bukan semata monopoli orang kaya apalagi orang kulit putih atau kulit kuning. Sementara masyarakat masih menganggap bahwa pariwisata adalah semata-mata bisnis atau urusan mereka yang berkecimpung pada bidang pariwisata seperti hotel, biri perjalanan, restaurant atau atraksi wisata. Mereka lupa dengan hadirnya pariwisata pembangunan menjadi semakin pesat mengingat pariwisata mendatangkan pemasukan cukup besar kepada daerah maupun negara. Mereka lupa bahwa pariwisata memungkinkan adanya pembukaan lapangan pejkerjaan baru dalam jumlah yang cukup besar.
B. Kebudayaan dan Pariwisata Bali
Bali mengembangkan Pariwisata Budaya, karena kebudayaan merupakan paling potensial bagi kehidupan masyarakatnya, berakar sangat mendalam dalam sejarahnya dan mempunyai peradaban tua dan ini dapat dikembalikan sejarahnya pada permulaan tahun masehi dan tersebar secara meluas, Modal dasar adalah kebudayaan berfungsi secara normatif dan operasional. Sebagai normatif peranan kebudayaan diharapkan mampu dan potensial dalam memberikan identitas, pegangan dasar, pola pengendalian, sehingga keseimbangan dan ketahana budaya juga diharapkan mampu menjadi daya tarik utama bagi peningkatan pariwisata. Ini memberi petunjuk betapa pentingnya peranan kebudayaan bagi pengembangan pariwisata. Jadi bukan berarti kebudayaan untuk pariwisata tetapi sebaliknya pariwisata untuk kebudayaan. Dan kebudayaan disini bukan hanya berfungsi untjk dinikmati, tetapi juga sebagai media untuk membawa saluing pengertian dan hormat menghormati.
Daya tarik Bali adalah dengan kebudayaannya yang unik dan merakyat. Kehidupan kebudayaannya adalah menyatunya agama, kebudayaan, adat yang harmonis, cipta, rasa dan karsa sebagai unsur budi daya manusia menonjol mengambil bentuk keagamaan, estetika dan etika (seni budaya, solidaritas, gotong royong rasa kebersamaan). Pelaksanaan upacara-upacara keagamaan mewariskan potensi ketrampilan dalam seni budaya dan disiplin rohani tekun bekerja dan taat pada norma-norma kehidupan masyarakat.
Bali telah mulai menginjak dunia kepariwisataan mulai tahun 1927 sampai sekarang dan telah menjadi pusat pariwisata yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa 61% lebih tertarik pada kebudayaan dan 32,8% pada keindahan pemandangan alam flora dan fauna dan sisanya 5,37% pada hal-hal lain.
Dalam peningkatan pariwisata, beberapa elemen kebudayaan dan peristiwa kebudayaan telah berperan antara lain :
Sebagai sarana dan media promosi kepariwisataan baik yang langsung di dalam maupun di luar negeri.
Sebagai atraksi yang mencakup pertunjukan kesenian, pameran kesenian, Khusu dengan hal ini pelaksanaan Pesta Kesenian Bali telah berlangsung 10 (sepuluh) tahun dan memberi arti dan nilai yang sangat mendalam.
Sebagai obyek wisata dengan aneka ragam corak khas sebagai kepurbakalaan, obyek kesejahteraan pura, puri desa-desa kuno, museum (etnografi, subak, yadnya, lukisan dan lain-lainnya).
Dalam wujud yang lebih abstrak, suatu sistem nilai dari kebudayaan dapat dipakai sebagai pola penataan ruang taman atau model suatu bentuk management.
Melalui aspek kebudayaan fisik, aspek kebudayaan prilaku dan kebudayaan ideal, simbol dan makna kebudayaan dapat terkomunikasikan kepada pariwisata dan dapat menmberi citra yang mendalam sebagai daya tarik saling menumbuhkan pengertian akan kehidupan kebudayaan suatu bangsa. Juga melalui industri kerajinan sebagai tanda mata, berbagai motif/desain kerajinan dan kreativitas di bidang kerajinan pada masyarakat Bali pada dasarnya bersumber dan mendapat inspirasi dari kebudayaan. Akhir-akhir ini perkembangan kreativitas dari masyarakat yang meningkat dalam berbagai bentuk kerajinan maka nama Bali sebagai daerah pariwisata lebih meningkat lagi.
Kelihatan potensi budaya Bali dalam menghadapi perkembangan kebutuhan akan berbagai kerajinan seni makin meningkat dan sumber budayanya sebagai tak pernah kering. Landasan budaya dalam kehidupan masyarakat yang sosial religius di Bali tetap mantap sehingga kontak-kontak kebudayaan dan pariwisata pada saling menunjang dalam peningkatannya dan dalam pembinaannya. Demikian juga telah mampu meningkatkan kreativitas serta memperkaya diri sebagai hasil dari adopsi, adaptasi yang selektif dan kreatif. Keadaan ini terutama ditunjang oleh pengembangan pariwisata didukung oleh kebijaksanaan pemerintah dan juga oleh masyarakat serta disamping berhasil meningkatkan kreativitas pendapatan masyarakat, juga meningkatkan kreativitasnya dan dorongan bermunculan industri - industri rakyat.
Dinamika budaya mampu mengembangkan dirinya sehingga modernitas dan tradisi menyatu dalam tiap tahap memberi stabilitas yang mantap dan juga meningkatkan kepercayaan pada diri sendiri serta membuatnya gairah.
Dengan demikian kebudayaan akan terus berkembang sbagai akibat kemajuan-kemajuan masyarakat itu sendiri, menuju masyarakat yang modern, tanpa kehilangan dirinya (berkelanjutan dalam perobahan). Pengembangan kebudayaan memang dibutuhkan oleh masyarakat sedangakan pariwisata memberi dukungan terhadap pengembangan kebudayaan dan mendorong munculnya kreativitas pada masyarakat Bali. Munculnya kreativitas telah mendorong pengembangan kebudayaan. Pengembangan kebudayaan melalui penggalian-penggalian kebudayaan itu sendiri menimbulkan pemahaman dan kesadaran akan kebudayaan menumbuhkan keyakinan akan kemampuan diri sendiri dan sadar berbudaya.
Pola kehidupan yang menyatu (integrated) yaitu keagamaan, seni budaya adat maka harus ke arah komersialisasi akan kecil dan selalu akan dapat diatasi sendiri. Dan dalam perkembangan seni tampak jelas adanya dua arah dan dua pola secara bersama-sama yaitu pola kesinian untuk pariwisata dan pola kesenian untuk kehidupan masyarakat dan ini lebih besar perkembangannya. Dalam kehidupan masyarakat Baliseni tidak dapat dipisah-pisahkan dan merupakan bagian dari hidupnya dan perlu terus mendapat pembinaan. Pembinaan diarahkan di mana masyarakat swadiri agar mampu mendukung kehidupan senimannya secara material. Bila ini sudah dapat dicapai maka kedudukan sosial budaya masyarakat akan makin kuat dalam menghadapi globalisasi.
Dinamika kehidupan kebudayaan yang bersifat progressif, kemudian diantisipasi secara positif oleh kebijaksanaan pemerintah daerah yang menyelenggarakan Pesta Kesenian Bali secara kontinue setiap tahun sejak tahun 1979. Dalam Pesta Kesenian yang tiap tahun berlangsung selama satu bulan itu berbagai produk kebudayaan dipamerkan berbagai aktifitas kebudayaan diragakan dan berbagai kreativitas dilombakan. Pelaksanaan Pesta Kesenian Bali yang berlangsung di tengah-tengah arus meningkatnya tahun telah memberikan makna pada kehidupan kebudayaan sendiri baik keluar maupun ke dalam. Tujuan utamanya ialah menggali semua potensi traidis seni budaya untuk dikembangkan agar dapat memenuhi stabilitas pada tiap-tiap perkembangaanya.
Dalam beberapa hal telah mencapai tujuannya. Pertama semua masyarakat telah mengenal kekayaan seni budayanya sendiri yang tiap-tiap tahun dipamerkan melalui prosesi, pergelaran dan pameran-pameran. Pariwisata dapat menyaksikan pertunjukan-pertunjukan seni yang bermutu pada waktu pesta seni berlangsung. Yang jarang mereka akan dapat melihatnya dalam kesempatan biasa dan demikian juga merupakan media komunikasi melalui seni yang sangat berharga. Dan masyarakat sendiri mendapat kesempatan menyaksikan seninya sebagaimana yang dikehendaki, isinya, ceritanya dan sebagainya, bahkan dalam bentuk yang cukup memberi rasa kebanggaan pada mereka. Masyarakat dapat melihat keberadaan seninya sendiri dalam dunia yang makin terbuka dan makin lebar.
Dalam hubungannya dengan Pariwisata dapat dikatakan bahwa antara pariwisata dan kebudayaan telah berkembang satu pola interaksi yang bersifat dinamik dan dinamika itu ternyata tidak hanya bergerak secara horisontal tetapi juga vertikal, dalam arti kebudayaan mampu meningkatkan Pariwisata dan Pariwisata mampu meningkatkan Kebudayaan serta dalam dinamika vertikal dalam kebudayaan secara jelas kentara potensi kebudayaan Bali dalam wujud yang luwes, adaptatif dan kreatif tanpa kehilangan identitasnya sendiri.
C. Penutup
Sebagai pusat pariwisata yang membuat kebudayaan Bali harus selalu mengalami pertemuan-pertemuan dengan berbagai kebudayaan, maka pembinaan kebudayaan lokal harus dilakukan secara terus menerus. Yang lebih penting, jangan sampai ada gejala masyarakat Bali diasingkan dari lingkungan kebudayaannya sendiri. Karena hal ini akan dapat membawa akibat buruk , seperti misalnya terjadi erosi kebudayaan yang dipaksa oleh kemiskinan penduduknya.
Tiap-tiap program pembangunan hendaknya selalu berkaitan dengan potensi dasar yang dimiliki oleh masyarakat Bali, yakni kebudayaan yang bernapaskan agama Hindu. Dan mengembangkan dinamika masyarakat daerah ini sangat efektif kalau dilakukan lewat lembaga-lembaga tradisional, sehingga mereka mampu dengan cepat menyesuaikan nilai-nilai baru yang hendak dikambangkan dalam menyongsong era globalisasi.
Teori evolusi suka tidak suka harus diakui sebagai salah satu teori yang paling berpengaruh sekaligus yang paling kontroversial yang pernah diajukan dalam sejarah peradaban manusia. Banyak yang menyetujuinya tetapi tidak sedikit pula yang menentangnya.
Beberapa Dorongan Wisatawan Mengunjungi Daerah Tujuan Wisata
•Keinginan untuk mengenal daerah,
•Keinginan untuk mengetahui daerah,
•Keinginan untuk mempelajari daerah,
•Mengetahui budaya masyarakat lokal.
Ciri Hubungan Wisatawan Dan Masyarakat
•Mereka berhubungan sementara (transitory relationship).
•Ada kendala ruang dan waktu yang menghambat hubungan.
•Dalam mass-tourism, tidak ada hubungan yang bersifat spontan antara wisatawan dan masyarakat lokal.
•Interaksi umumnya bersifat unequal dan unbalanced (tidak setara).
Persepsi Masyarakat Terhadap Wisatawan
Secara evolutif, greenwood (1977) melihat bahwa hubungan antara wisatawan dengan masyarakat lokal menyebabkan terjadinya proses komoditisasi dan komersialisasi dari karamahtamahan masyarakat lokal. Awalnya wisatawan dianggap sebagai “tamu” dalam pengertian tradisional, yang dismbut ramahtamah tanpa motif ekonomi. Tapi dalam perkembangannya, wisatawan semakin banyak jumlah kadatangannya, sehingga hubungan berubah menjadi resiprositas dalam artian ekonomi, yaitu atas dasar pembayaran. Profesionalisme menjadi inti pokok untuk membina hubungan baik dengan wisatawan, dan sangat memperhatikan kelanjutan hubungan di masa-masa yang mendatang.
Kerangka Teori Irindex
Doxey (1976) dalam irindex ini menggambarkan perubahan sikap masyarakat lokal terhadap wisatawan secara linier. Sikap yang semula positif berubah menjadi semakin negatif seiring pertambahan jumlah wisatawan.
Tahapan Tahapan Sikap Masyarakat Lokal Terhadap Wisatawan
•Euphoria, kedatangan wisatawn diterima dengan baik dengan sejuta harapan.
•Apathy, masyarakat menerima wisatawan sebagai sesuatu yang lumrah, dan hubungannya didominasi oleh hubungan komersial.
•Annoyence, titik kejenuhan hampir tercapai, masyarakat mulai terganggu dengan kehadiran wisatawan.
•Antagonism, masyarakat secara terbuka menunjukkan ketidak senangannya, dan melihat wisatawn sebagai sumber masalah.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat lebih mengenal istilah guide daripada pemandu wisata maupun pramuwisata. Guide selalu dikaitkan dengan “orang bule, turis” (wisatawan). Setiap orang yang menemani wisatawan makan di restoran, mengantar wisatawan mengunjungi objek wisata, menonton pertunjukan, belanja di souvenir shop, dan lain-lain selalu dikonotasikan sebagai guide. Untuk itulah, pertama-tama perlu kita pahami apa dan siapa sebenarnya pramuwisata itu.
Pramuwisata (guide) pada hakekatnya adalah seseorang yang menemani, memberikan informasi dan bimbingan serta saran kepada wisatawan dalam melakukan aktivitas wisatanya. Aktivitas tersebut, antara lain mengunjungi objek dan atraksi wisata, berbelanja, makan di restoran, dan aktivitas wisata lainnya dan untuk itu ia mendapatkan imbalan tertentu.
Penting pula untuk diketahui bahwa tidak semua orang yang menemani wisatawan itu disebut sebagai pramuwisata, karena masih ada profesi lain yang kegiatannya berhubungan dengan wisatawan, antara lain sebagai berikut :
Penterjemah (Interpreter)
Penerjemah adalah seseorang yang bertugas menerjemahkan bahasa tertentu ke dalam bahasa yang dikehendaki oleh wisatawan. Ia hanya menyampaikan apa yang disampaikan oleh orang lain atau menjelaskan percakapan dalam suatu bahasa tertentu
Penerima Tamu (Hostess)
Penerima tamu adalah seseorang yang bertugas menjemput tamu di bandara, pelabuhan laut, stasiun atau terminal serta hotel atau memberikan ucapan selamat jalan kepada tamu yang akan kembali ke tempat asal atau melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Kegiatannya, antara lain memberi ucapan selamat datang dengan mengalungkan rangkaian bunga, membantu tamu pada saat pemeriksaan keimigrasian dan bea cukai, menghubungkan atau memperkenalkan tamu dengan orang-orang tertentu.
Pengawal atau Pendamping (Escortist)
Pengawal adalah seseorang yang bertugas mendampingi wisatawan dalam berbagai aktivitas, seperti tur, belanja, pertemuan, termasuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya pribadi. Ruang lingkup kegiatan Escortist lebih luas dibandingkan dengan pramuwisata atau profesi sejenis lainnya.
Penggolongan Pramuwisata
Pramuwisata dapat dikelompokan sesuai dengan sudut pandang sebagai berikut:
Beradasarkan ruang lingkup kegiatannya.
Transfer Guide: Transfer guide adalah pramuwisata yang kegiatannya menjemput wisatawan di bandara, pelabuhan laut, stasiun atau terminal menuju ke hotel atau sebaliknya atau mengantar wisatawan dari satu hotel ke hotel lainnya
Walking Guide/Tour Guide: Walking guide adalah pramuwisata yang kegiatannya memandu wisatawan dalam suatu tour
Local/Expert Guide: Local guide adalah pramuwisata yang kegiatannya khusus memandu wisatawan pada suatu objek atau transaksi wisata tertentu, misalnya museum, wisata agro, river rafting, goa, gedung bersejarah, dan lain-lain
Common Guide: Common guide adalah pramuwisata yang dapat melakukan kegiatan baik transfer maupun tour
Driver Guide: Driver guide adalah pengemudi yang sekaligus berperan sebagai Pramuwisata. Ia bertugas mengantarkan wisatawan ke objek atau atraksi wisata yang dikehendaki sekaligus memberikan informasi yang diperlukan. Tak jarang pula seseorang pramuwisata pengemudi ikut turun ke objek untuk memberikan penjelasan tentang objek tersebut jika tidak ada local guide. Kadang-kadang ia juga menemani wisatawan saat berbelanja atau makan. Jadi, pada dasarnya driver guide menjalankan dua fungsi, yakni sebagai pengemudi dan pramuwisata.
Berdasarkan Status
Payroll Guide: Payroll Guide adalah pramuwisata yang berstatus sebagai pagawai tetap perusahaan perjalanan dengan mendapat gaji tetap di samping komisi dan tip yang diterima dari wisatawan
Part Timer/Freelance Guide: Part Timer/Freelance guide adalah pramuwisata yang bekerja pada suatu perusahaan perjalanan untuk kegiatan tertentu dan dibayar untuk tiap pekerjaan yang dilakukan, serta tidak terikat oleh suatu perusahaan perjalanan tertentu dan bebas melakukan kegiatannya sesuai permintaan wisatawan atau perusahaan perjalanan lain yang membutuhkannya
Member of Guide Association: Member of guide association adalah pramuwisata yang berstatus sebagai peserta dari suatu asosiasi pramuwisata dan melakukan kegiatannya sesuai dengan tugas yang diberikan oleh asosiasi tersebut
Government Officials: Government officials adalah pegawai pemerintah yang bertugas untuk memberikan informasi kepada tamu tentang suatu aktivitas ,objek, gedung, atau suatu wilayah tertentu
Company Guide: Company guide adalah karyawan sebuah perusahaan yang bertugas memberikan penjelasan kepada tamu tentang aktivitas atau objek perusahaan.
Berdasarkan Karakteristik Wisatawan Yang Dipandu
Individual Tourist Guide: Individual tourist guide adalah pramuwisata yang khusus memandu wisatawan individu
Group Tour Guide: Group tour guide adalah pramuwisata yang memandu wisatawan rombongan
Domestic Tourist Guide: Domestic tourist guide adalah pramuwisata yang memandu wisatawan nusantara/ domestik
Foreign Tourist Guide: Foreign tourist guide adalah pramuwisata yang memandu wisatawan mancanegara
Peranan Pramuwisata
Pramuwisata adalah orang yang pertama kali dijumpai oleh wisatawan dalam rangka mewujudkan harapan dan impian atas tour yang telah dibayarnya. Wisatawan bagaikan seorang bocah kecil di tengah hiruk pikuknya pasar. Ia tidak tahu harus melangkah kemana, ia membutuhkan bimbingan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Adalah tugas Pramuwisata untuk menemani, mengarahkan, membimbing, menyarankan wisatawan di tengah-tengah ketidaktahuannya itu. Wajarlah jika wisatawan mempercayakan aktivitasnya kepada Pramuwisata, karena ia yang lebih tahu dan berpengalaman. Maka jadilah Pramuwisata itu sebagai teman perjalan bagi wisatawan. Sebagai teman yang baik maka akan sangat ironi jika seorang pramuwisata memanfaatkan ketidaktahuan wisatawan untuk mengail keuntungan untuk diri sendiri, misalnya dengan menaikan harga barang yang dibeli wisatawan, memaksa untuk memberikan imbalan lebih, dan sebagainya.
Dalam skala yang lebih luas pramuwisata adalah duta bangsa atau setidaknya duta daerah tempat ia melakukan tugasnya. Apa yang diekspresikan oleh pramuwisata dianggap oleh wisatawan sebagai cerminan karakter masyarakat setempat, demikian pula apa yang disampaikan oleh pramuwisata akan dipercaya oleh wisatawan sebagai pengetahuan yang akan selalu diingat hingga kembali ke tempat asal. Mengingat hal tersebut, maka seorang pramuwisata hendaknya dapat memberikan informasi dengan benar dan baik menyangkut negara, kota, maupun suatu desa, objek wisata, budaya, dan lain sebagainya.
Persyaratan Pramuwisata
Pramuwisata adalah seseorang yang memegang peranan penting dalam kegiatan tur maupun transfer. Ia menjadi tumpuan harapan wisatawan, perusahaan yang mempekerjakannya, bahkan daerah atau negara tempat ia bekerja. Untuk itulah, ia harus memenuhi persyaratan tertentu agar dapat mengemban amanat yang demikian berat secara profesional. Persyaratan tersebut menyangkut hal-hal yang bersifat fisik maupun psikis
Syarat fisik/Penampilan Pramuwisata: Pakaian dalam pengertian ini mengandung makna yang luas, tidak sekedar baju, celana, rok, sendal, dan sebagainya akan tetapi keseluruhan yang tampak dari luar diri seseorang itu. Secara manusiawi kesan seseorang terhadap orang lain pertama-tama biasanya dipengaruhi oleh penampilan orang yang dihadapi tersebut. Sebagai petugas yang pertama kali berhubungan dengan wisatawan saat penyelenggaraan tur, maka pramuwisata harus dapat berpenampilan secara maksimal, karena apa yang ditampilkan pertama kali itu akan berdampak terhadap kesan wisatawan selanjutnya
Syarat Psikis/Kepribadian Pramuwisata: Secara teori yang dimaksud dengan kepribadian adalah integritas psiko-fisik sebagai resultan dari hereditas, lingkungan dan kematangan yang bersifat unik dan dinamis serta berbeda satu dengan yang lainnya. Jelasnya, kepribadian lahir karena perpaduan tiga faktor, yakni keturunan, lingkungan atau pergaulan, dan waktu atau kematangan. Ketiga unsur ini saling berkaitan dalam membentuk satu wujud kepribadian. Karena sifatnya yang spesifik, maka setiap orang memiliki kepribadiannya masing-masing.
Menurut ilmu jiwa, kepribadian seseorang dapat berkembang karena dua hal, yaitu bakat dan didikan. Kepribadian karena faktor bakat sulit untuk diubah atau diciptakan, akan tetapi kepribadian itu dapat pula dikembangkan melalui proses pendidikan. Agar dapat mengembangkan kepribadian yang menarik maka seseorang pramuwisata hendaknya menampilkan sifat-sifat: ( penuh perhatian, ketajaman daya ingatan, pandai bergaul, periang, jujur dan dapat dipercaya, penuh inisiatif, humoris, suka menolong, empati, pemimpin yang baik)
Kode Etik Pramuwisata
Kode etik Pramuwisata Indonesia ditetapkan melalui Keputusan Musyawarah Nasional I Himpunan Pramuwisata Indonesia dengan Keputusan Nomor 07/MUNAS.I/X/1988, meliputi hal-hal sebagai berikut:
Pramuwisata harus mampu menciptakan kesan penilaian yang baik atas daerah, negara bangsa, dan kebudayaan
Pramuwisata dalam menjalankan tugasnya harus mampu menguasai diri, senang, segar, rapi, bersih serta berpenampilan yang simpatik (menghindari bau badan, perhiasan, dan parfum yang berlebihan)
Pramuwisata harus mampu menciptakan suasana gembira dan sopan menurut kepribadian Indonesia
Pramuwisata harus mampu memberikan pelayanan dan perlakuan yang sama kepada wisatawan dengan tidak meminta tip, tidak menjajakan barang dan tidak meminta komisi
Pramuwisata mampu memahami latar belakang asal usul wisatawan serta mengupayakan untuk meyakinkan wisatawan agar mematuhi hukum, peraturan, adat kebiasaan yang berlaku dan ikut melestarikan objek
Pramuwisata mampu menghindari timbulnya pembicaraan serta pendapat yang mengundang perdepatan mengenai kepercayaan, adat istiadat, agama, ras dan sistem politik sosial negara asal wisatawan
Pramuwisata berusaha memberikan keterangan yang baik dan benar. Apabila ada hal-hal yang belum dapat dijelaskan maka pramuwisata harus berusaha mencari keterangan mengenai hal tersebut dan selanjutnya menyampaikan kepada wisatawan dalam kesempatan berikutnya
Pramuwisata tidak dibenarkan mencemarkan nama baik perusahaan, teman seprofesi dan unsur-unsur pariwisata lainnya
Pramuwisata tidak dibenarkan untuk menceritakan masalah pribadinya yang bertujuan untuk menimbulkan rasa belas kasihan dari wisatawan
Pramuwisata saat perpisahan mampu memberikan kesan yang baik agar wisatawan ingin berkunjung kembali
Hubungan Pramuwisata dengan Perusahaan dan Organisasi Terkait
Pramuwisata dapat dikatakan sebagai jantung dari sebuah tur atau transfer sebab ia adalah seseorang yang harus dapat memompa dan menghidupkan suasana sehingga wisatawan benar-benar dapat memperolah pengalaman menarik sebagimana diharapkan. Oleh karenanya Pramuwisata harus memahami organ atau komponen lain yang dapat membentuk pengalaman-pengalamanitu. Untuk itulah penting baginya menjalin hubungan yang baik dengan perusahaan serta organisasi terkait dengan tujuan, antara lain sebagai berikut
Mendapatkan informasi yang akurat dari sumber yang kompeten
Mengetahui perkembangan terkini atas informasi yang disampaikan
Menjalin komunikasi yang lebih baik dengan perusahaan dan organisasi terkait
Hubungan yang baik tersebut pada akhirnya akan bermuara pada efektifitas dan efisiensi rencana pemanduan yang dibuat serta tercapainya pemanduan yang berkualiatas. Adapun perusahaan dan organisasi yang erat kaitannya dengan kegiatan Pramuwisata antara lain adalah: (perusahaan perjalanan, Himpunan Pramuwisata Indonesia/HPI, Association of Indonesian Travel Agencies/ASITA, objek dan atarksi wisata, toko cinderamata, Hotel dan Restaurant, Perusahaan transportasi, Pemerintah).
Pengetahuan yang perlu dimiliki oleh Pramuwisata
Agar dapat melaksanakan kegiatannya dengan baik, maka seorang pramuwisata harus membekali dirinya dengan pengetahuan yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas dalam kegiatan tersebut.
Secara umum pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang pramuwisata meliputi pengetahuan tentang diri sendiri, pengetahuan tentang wisatawan dan pengetahuan tentang kegiatan yang dilakukan.
Sumber Informasi
Informasi yang dibutuhkan oleh pramuwisata haruslah digali dari sumber-sumber yang benar-benar relevan dan dapat dipercaya sehingga informasi yang didapat benar-benar berkualitas dan memberikan manfaata sebagaimana diharapkan, sumber informasi bagi pramuwisata antara lain adalah: (pengalaman pribadi, penyedia fasilitas, kantor pemerintah, organisasi/asosiasi, perpustakaan, media massa).
Pembaruan Informasi
Salah satu ciri informasi yang berkualitas adalah Up to date atau terkini yang mengandung makna bahwa informasi tersebut merupakan kondisi yang paling akhir dari apa yang diinformasikan. Untuk mendapatkan informasi terkini pramuwisata harus senantiasa memperbaharuinya dengan selalu mengikuti perkembangannya melalui sarana-sarana yang tersedia.
Beberapa informasi yang sering mengalami perubahan dan perlu mendapat perhatian utama untuk dilakukan pembaharuan antara lain kurs mata uang, tanggal, waktu, data, statistik, temperatur udara, kondisi politik, dan lain-lain.
Sarana yang dapat dipergunakan untuk memperbaharui informasi, antara lain sebagai berikut:
Mengikuti seminar, kursus singkat, pelatihan-pelatihan, talk show
Membaca, baik dalam bentuk buku panduan, artikel, majalah dan surat kabar, brosur, maupun media cetak yang lain
Mengunjungi situs internet
Melibatkan diri dalam kegiatan organisasi profesi
Mengunjungi pameran-pameran
Mengunjungi dan mendengarkan informasi dari personel perusahaan perjalanan, hotel, restoran, transportasi, objek dan atraksi wisata maupun juga wisatawan
Teknik Berbicara:
Berbicara bagi seorang pramuwisata adalah suatu seni penyampaian informasi yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi yang mendengarkannya. Dilihat dari cara penyampaiannya maka bahasa yang digunakan dalam berbicara dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Bahasa Lisan: Yaitu berbicara dengan menggunakan lisan sebagai sarananya. Informasi disampaikan melalui simbol-simbol suara saja, akan tetapi berbicara juga merupakan seni, yang menarik dan dapat membangkitkan minat wisatawan untuk menikmati informasi yang disampaikan. Unsur-unsur yang harus dikuasai agar dapat berbicara dengan bahasa lisan secara baik adalah: (kosa kata, tata bahasa dan teknik suara)
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan bahasa lisan antara lain:
Berbicara pada waktu yang tepat
Tunjukan kesan ramah selama berbicara
Hindari penggunaan bahasa dan logat daerah, kecuali jika bahasa tersebut dijadikan sebagai materi pemanduan
Bersikap dengan baik selama berbicara
Padukan bahasa lisan dengan bahasa tubuh secara harmonis
2. Bahasa Tubuh: Menurut keterangan para ahli bahwa dalam ketrampilan berkomunikasi apa yang kita katakan pentingnya hanyalah 7%, bagaimana kita mengatakan 38% dan bahasa tubuh pentingnya adalah 55% (Peter Thomson,1997:57). Hal ini dapat dipahami karena pada umumnya pendengar lebih percaya terhadap apa yang mereka lihat dari pada apa yang mereka dengar, dan bahasa tubuh adalah kenyataan yang mereka lihat pada saat informasi diterima. Unsur-unsur bahasa tubuh meliputi : (penampilan, gerakan tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata)
Pelayanan Transfer
Transfer adalah kegiatan perpindahan wisatawan dari satu tempat ke tempat lain. Tempat-tempat yang dimaksud dapat berupa airport, pelabuhan, terminal maupun hotel. Dilihat dari asal dan tujuan perpindahan tersebut maka transfer dapat dibedakan menjadi:
Transfer in atau Arrival Transfer: Adalah kegiatan penjemputan tamu dari tempat kedatangan (airport, pelabuhan atau terminal) untuk dibawa dan melakukan check in di suatu hotel
Transfer out atau Departure Transfer: Adalah kegiatan pengantaran tamu dari hotel ke tempat keberangkatan (airport, pelabuhan atau terminal) untuk kembali ke tempat asal atau melanjutkan perjalanan ketempat lain
Transfer Hotel: Adalah kegiatan pengantaran kepindahan tamu dari hotel yang satu ke hotel yang lain karena sebab-sebab tertentu baik atas permintaan tamu sendiri atau keinginan pihak hotel
Intercity Transfer: Adalah kegiatan pengantaran tamu dari satu kota ke kota lain. Adakalanya dalam perjalanan selama transfer tersebut diselingi dengan kegiatan tur.
Pelayanan Tour
Tour atau wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatant ersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. (Undang-undang Nomor 9 thn 1990, tentang Kepariwisataan).
Tur yang dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam disebut ekskursi, sedangkan yang lebih dari 24 jam diistilahkan dengan wisata paket. Wisata paket pada dasarnya adalah rangkaian dari beberapa eksekursi.
Rincian tugas yang harus dilakukan pramuwisata sebelum tur dilaksanakan adalah sebagai berikut:
Teliti guide order, terutama tentang nama wisatawan atau rombongan, jumlah, nama hotel dan nomor kamar, pesawat dan nomer penerbangan, perkiraan waktu keberangkatan
Hubungi pengemudi dan cek kesiapan kendaraan
Siapkan uang yang diperlukan untuk keperluan tour
Pastikan segala perlengkapan telah siap sebelum berangkat
Perkirakan waktu berangkat yang sesuai dengan EDT sehingga tidak terjadi keterlambatan
Pelaporan
Setelah semua rangkaian kegiatan tur dilaksanakan maka pramuwisata harus melaporkan seluruh kegiatannya kepada perusahaan perjalanan yang memberinya tugas pemanduan. Laporan ini akan bermanfaat baik bagi pramuwisata sendiri maupun bagi perusahaan perjalanan yang mempekerjakannya. Bagi pramuwisata laporan dapat dipakai sebagai dasar untuk menuntut hak atas pekerjaan yang telah dilakukan serta alat evaluasi bagi pelaksanaan tugas berikutnya. Sedangkan bagi perusahaan, laporan ini bermanfaat sebagai alat kontrol penyelenggaraan wisata serta untuk mengindikasi hal-hal penting sebagai masukan untuk penyelenggaraan tur yang lebih baik di masa yang akan datang. Ada dua hal yang perlu dilaporkan oleh pramuwisata yaitu laporan kegiatan dan laporan keuangan.
Penanganan masalah
Itinerary yang telah disusun sebelum tut dilaksanakan adalah sebuah rencana yang diharapkan dapat dilaksanakan sesuai dengan apa yang disebutkan didalamnya, namun tidak menutup kemungkinan terjadinya penyimpangan atas program tersebut.
Penyimpanan dapat terjadi karena kondisi yang berada di luar jangkauan manusia seperti banjir, kerusuhan massa. Kondisi tersebut mengakibatkan kegiatan tur tidak dapat dilaksanakan sebagaimana direncanakan. Penyimpangan dapat pula terjadi karena unsur kesengajaan baik oleh wisatawan sendiri maupun oleh pramuwisata.
Adapun cara menangani masalah tersebut adalah sebagai berikut:
Apabila penyimpangan terjadi karena kondisi di luar jangkauan manusia maka pramuwisata harus merundingkan kondisi yang terjadi dengan wisatawan atau tour leader serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan
Apabila penyimpangan terjadi karena unsur kesengajaan maka harus dijelaskan alasannya serta kompensasi atas penyimpangan. Jika hal tersebut atas permintaan wisatawan maka tidak merupakan keharusan bagi pramuwisata untuk memberikan kompensasi atas penyimpangan yang dilakukan.
Hal penting yang perlu diingat oleh pramuwisata bahwa untuk setiap keputusan alternatif yang diambil dalam menyelesaikan penyimpangan pelayanan harus didukung dengan bukti tertulis yang disetujui oleh bersama antara pramuwisata dan wisatawan
Kehilangan:
Kehilangan dapat berupa kehilangan barang maupun kehilangan peserta wisatawan. Kehilangan barang dapat berupa barang bawaan, paspor, uang, tiket perjalanan. Kehilangan dapat terjadi di airport, terminal atau pelabuhan, hotel, atau di tempat-tempat lain.
Bentuk bantuan yang diberikan oleh pramuwisata tergantung dari tempat kejadian kehilangan. Kehilangan yang terjadi di airport menuntut pramuwisata lebih aktif memberikan bantuan pencarian dibandingkan dengan kehilangandi hotel karena hotel telah memiliki prosedur sendiri atas kasus kehilangan.
Kecelakaan:
Apabila dalam perjalanan terjadi kecelakaan maka hal-hal yang perlu dilakukan oleh pramuwisata, antara lain:
Memberikan pertolongan pertama kepada wisatawan yang mengalami luka ringan
Mengantarkan wisatawan ke puskesmas atau ke rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan
Memberikan keterangan yang diperlukan oleh pihak kepolisian atas kejadian kecalakaan tersebut.
Dalam hal ini sudah barang tentu diperlukan biaya untuk penyelesaikan pengobatan di puskesmas atau ke rumah sakit, sehingga pramuwisata harus mengkomunikasikannya kepada perusahaan yang mempekerjakannya untuk penyelesaian lebih lanjut
Sakit atau Meninggal
Bagi wisatawan yang menderita penyakit tertentu maka sebelum tour berlangsung diinformasikan untuk membawa obat pribadi yang diperlukan selama tour. Akan tetapi pramuwisata harus menyiapkan obat-obat tertentu untuk memberikan pertolongan sementara jika wisatawan mengalami sakit di perjalanan. Obat-obatan yang dapat dibawa antara lain: paracetamol, aspirin, anti alergi dan lain-lain.
Seandainya wisatawan sakit di perjalanan maka:
Tanyakan apakah yang bersangkutan membawa atau harus minim obat tertentu untuk meredakan sakitnya
Berikan pertolongan pertama semampunya
Jika perlu berikan obat-obatan yang dapat dikonsumsi secara umum untuk sakit tertentu misalnya influensa, panas, alergi
Apabila sakitnya tidak dapat ditangani maka rujuk ke puskesmas atau rumah sakit terdekat
Laporkan ke perusahaan
Apabila sakitnya terjadi di hotel, maka pihak hotel akan menanganinya dengan memberikan pertolongan pertama, memanggil dokter atau apabila parah maka hotel akan merujuknya ke rumah sakit.
Jika wisatawan meninggal maka:
Buat peserta lain agar tidak panik
Panggil ambulance dan kirim ke rumah sakit. Jika memanggil ambulance tidak mungkin maka gunakan kendaraan tur
Rundingkan dengan wisatawan atau tur leader untuk kegiatan berikutnya, dilanjutkan atau tidak
Laporkan ke perusahaan.
Keluhan Wisatawan
Keluhan wisatawan tidak terbatas pada pelaksanaan panduan seorang pramuwisata, aka tetapi menyangkut kesuluruhan fasilitas dan pelayanan yang didapat selama melakukan tur dan pramuwisata harus dapat menanganinya secara profesional.
Untuk dapat menangani keluhan secara profesional, maka harus diketahui terlebih dahulu jenis keluhan tersebut. Pada dasarnya keluhan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
Keluhan Sejati: Adalah keluhan yang timbul karena kondisi fasilitas dan pelayanan berdasarkan standar umum tidak memuaskan arau tidak sesuai dengan perjanjian sebelumnya
Keluhan biasa: Adalah keluhan yang timbul karena pengaruh cara pandang wisatawan terhadap fasilitas atau pelayanan yang diterima. Dalam hal ini antara wisatawan yang satu dengan yang lain mungkin saja berbeda penilaiannya terhadap fasilitas atau pelayanan yang sama.
Apapun jenis keluhannya, pramuwisata harus dapat menangani secara arif dan bijaksana dengan menggunakan prinsip-prinsip: (mendengarkan, memahami, meneliti, menangani, minta maaf)
Setiap keluhan yang terjadi seharusnya dilaporkan secara tertulis kepada perusahaan yang akan bermanfaat bagi perbaikan pelayanan dan mengantisipasi munculnya keluhan yang sama di masa yang akan datang. Secara sedarhana laporan tersebut dapat dibuat dengan menggunakan blanko pada contoh berikut
Menjadi seorang pramuwisata yang profesional bukanlah hal yang mudah, namun tidaklah mustahil untuk dilakukan. Profesionalisme itu merupakan akumulasi dari semua unsur yang seharusnya dimiliki oleh seorang pramuwisata. Unsur itu berupa modal dasar yang ada dalam dirinya sendiri yang dapat membangkitkan semangat untuk tangap terhadap lingkungan di luar dirinya, yaitu wisatawan dan kegiatan yang dilakukan.
Sumber : http://dpdhpisulut.wordpress.com/pemanduan-wisata/
Nama Tampaksiring diambil dari dua buah kata bahasa Bali, yaitu tampak (yang bermakna 'telapak ') dan siring (yang bermakna 'miring'). Menurut sebuah legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas telapak kaki seorang Raja yang bernama Mayadenawa. Raja ini pandai dan sakti, tetapi bersifat angkara murka. Ia menganggap dirinya dewa serta menyuruh rakyatnya menyembahnya. Sebagai akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra marah dan mengirimkan balatentaranya untuk menghacurkannya. Namun, Mayadenawa berlari masuk hutan. Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap agar para pengejarnya tidak mengenali bahwa jejak yang ditinggalkannya itu adalah jejak manusia, yaitu jejak Mayadenawa.Usaha Mayadenawa gagal. Akhirnya ia ditangkap oleh para pengejarnya. Namun, sebelum itu, dengan sisa-sisa kesaktiannya ia berhasil menciptakan mata air beracun yang menyebabkan banyak kematian bagi para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air ciptannya itu. Batara Indra pun menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun tersebut. Air Penawar racun itu diberi nama Tirta Empul (yang bermakna 'airsuci'). Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah wilayah ini dikenal dengan nama Tampaksiring. Tampaksiring memiliki beberapa obyek wisata yang sudah dikenal oleh wisatawan mancanegara maupun domestick adapun obyek tersebut adalah : Dikalangan wisatawan domestik kecamatan dengan 8 desa ini tersohor karena ada istana presiden. Namun sesungguhnya, kecamatan dengan luas 42,63 Km persegi ini banyak memiliki obyek-obyek wisata yang sudah terkenal di seluruh dunia. Seperti Gunung kawi, Pura Tirta Empul dan banyak lagi situs-situs peninggalan sejarah hingga ke wilayah selatan.
Lokasi :
Istana Tampak Siring yang terletak Terletak di desa Tampak Siring, Kecamatan Tampak Siring, Kabupaten Gianyar-Bali, provinsi Bali. Kurang lebih 40 km dari denpasar dengan jarak tempuk sekitar 1 jam . Merupakan satu-satunya Istana Kepresidenan yang dibangun setelah Indonesia Merdeka. Kelima isatana lainnya merupakan bangunan yang telah berdiri sejak jaman kolonialisme Belanda, antara lain Istana Negara dan Istana Merdeka (Jakarta), Istana Bogor (Bogor), Istana Cipanas (Cipanas), serta gedubg agung (yogyakarta). Istana tanpak sering digunakan oleh Presiden untuk beristirahat, maelakukan rapat kerja, serta melakukan perundingan luar negri. Pada tanggal 27 April 2007, misalnya, Istana Tampak Siring menjadi saksi perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura.
Tampaksiring adalah sebuah kota kecil yang memiliki monument tua yang paling mengesankan di Bali, disini juga terdapat sebuah pura besar yang penting serta tempat pemandian umum, Tampaksiring adalah tempat persinggahan bagi wisatawan dari Ubud yang akan ke Danau Batur.Kawasan Tampak Siring sudah sangat populer, terutama karena presiden pertama RI - Soekarno, mendirikan Istana Negara yang lokasinya berdekatan dengan Pura Tirta Empul.
Deskripsi
Istana Tampak Siring dibangun oleh seorang arsitek bernama R.M Soedarsono atar prakarsa Presiden Soekarno. Pembangunan istana kepresidenan ini terbagike dalam dua masa, yaitu tahun 1957 dan 1963, pembangunan tahap kedua merampungkan dua gedung utama yang lainnya, yaitu Wisma Negara dan Wisma Bisma, serta satu gedung Serba Guna (gedung konferensi). Istana Kepresidenan Tampak siring berdiri atas prakarsa Presiden I Republik Indonesia, Soekarno, sehingga dapat dikatakan Istana Kepresidenan Tampaksiring merupakan satu-satunya istana yang dibangun pada masa pemerintahan Indonesia.
Istana Tampak Siring dibangun di areal berbukit dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Para pelancong yang mengunjungi tempat inidapat menyaksikan riwayat dan fungsi gedung bersejarah yang pernah digunakan oleh Para Presiden Republik Indonesia. Pada Wisma Merdeka yang memiliki luas 1.200 m. Misalnya Pengunjung dapat melihat Ruang Tidur 1 dan Ruang tidur 2 Presiden, Ruang Tidur Keluarga, Ruang Tanu, serta Ruang Kerja dengan penataan yang demikian indah. Di gedung ini juga wisatawan dapat melihathiasan-hiasan berupa Patung serta lukisan-lukisan pilihan.
Sementara di Wisma Negara, para wisatawan dapat menyaksikan sebuah bangunan dengan luas sekitar 1.476 m yang merupakan bangunan untuk menjamu para tamu negara. Antara Wisma Merdeka dan Wisma Negara terdapat celah sedalam 15 meter yang memisahkan dua wisma tsb. Oleh sebab itu, dibangunlah sebuah jembatan sepanjang 40 m dengan lebar 1,5 m untuk menghubungkan dua wisma. Para tamu biasanya akan diantarkan melalui jembatan ini untuk menuju Wisma Negara, sehingga jembatan ini juga dikenal dengan nama Jembatan Persahabatan. Para tamu kehormatan yang pernah melewati jembatan ini antara lain Kaisar Hirihito dari Jepang, Presiden Tito dari Yugoslasia, Ho Chi Minh dari Vienam, serta Ratu Juliana dari Nederland
Wisma Yudhistira merupakan tempat menginap rombongan kepresidenan maupun rombongan tamu negara. Wisma yang terletak di tengah komplek Istana Tampak Siring ini memiliki luas sekitar 1.825 m. Sedangkan Wisma Bima dengan luas bangunan sekitar 2.000 m biasanya digunakan sebagai tempat istirahat para pegawai presiden maupun pengawal tamu negara. Gedung lain yang tak kalah penting adalah Gedung Konfrensi. Gedung ini sengaja dibangun untuk keperluan rapat kabinet, jamuan makan malam tamu kenegaraan, serta konfrensi penting, seperti konfrensi tingkat tinggi (KTT) ASEAN XIV yang diselenggarakan pada tanggal 7-8 Oktober 2003 silam.
Masih dalam kawasan istana ini, para wisatawan juga dapat menikmati objek wisata lainnya yang cukup terkenal di Pulau Bali, yaitu Pura Tampak Siring yang berada tepat di bawah istana Tampak Siring. Pura ini juga terkenal dengan nama Pura Tirta Empul karena di pura ini terdapat sumber mata air suci (tirta empul). Di tempat ini, para wisatawan dapat melakukan meditasi maupun meraup berkah dengan cara mandi di kolam khusus yang dialiri oleh air dari Tirta Empul. Mata air yang disakralkan ini konon sudah digunakan untuk penyucian dan pengobatan sejak seribu tahun yang lalu.
Kompleks Istana Tampak Siring dan Pura Tirta Empul berada kurang-lebih 40 kilometer dari Kota Denpasar. Bagi para wisatawan yang memerlukan penginapan dapat menyewa hotel maupun resort di sekitar Tampak Siring. Bagi anda yang hobi belanja maupun penikmat kuliner juga dapat memuaskan hasratnya di kios-kios souvenir dan warung makan yang banyak tersedia di kawasan ini.
sumber : wikipedia, http://www.gianyartourism.com, http://www.iftfishing.com
2.1 SEJARAH MUSEUM BALI
Museum ini didirikan beberapa tahun setelah kerajaan Badung diduduki Belanda yaitu tahun 1910 atas prakarsa dan dorongan Residen Belanda bernama W.F.I.Kroon yang dalam pengembangannya dibantu oleh arsitek Jerman yaitu Curt Griindler dan beberapa undagi (ahli seni bangunan tradisional Bali) diantaranya I Gusti Ketut Gede Kandel, I Gusti Ketut Rai, dan I Gusti Alit Ngurah yang desainnya merupakan perpaduan antara seni bangunan pura dan puri yang merupakan tempat tinggal kaum ningrat. Selesai pembangunannya tahun 1929 dan secara resmi dibuka tanggal 8 Desember 1932.
Para sarjana Barat yang ikut membantu membangun museum ini adalah Dr.W.F.Stuterhein, Dr.R.Goris, Walter Spies dan Dr.TH.A.Resink. Museum Bali merupakan museum tertua di Bali dan merupakan pemicu kehadiran museum-museum lainnya. Berdasarkan atas koleksinya, jenis museum ini termasuk museum ethnografi koleksinya meliputi benda-benda budaya perlengkapan hidup dan perlengkapan upacara adat / agama masyarakat Bali dari sejak dulu sampai sekarang. Kebudayaan Bali memiliki karakter unik yang dilandasi oleh perkembangan sejarah, agama dan aspek lainnya. Strukturnya terdiri dari beberapa unsur budaya yaitu unsur Bali asli (Bali Kuno) dengan agama Budha dan Hindu yang telah luluh menjadi satu membentuk kebudayaan Bali sekarang.
2.2 PEMANFAATAN SEBAGAI AREAL LEISURE
Sebelum mengetahui pemanfaatan Museum Bali sebagai areal leisure, ada baiknya terlebih dahulu kita mengetahui lokasi dari Museum Bali itu sendiri. Museum Bali terletak dipusat kota Denpasar, di sebelah timur lapangan puputan Badung. Bentuk bangunannya memanjang dari utara ke selatan yang terbagi menjadi dua bagian. Bagian utara merupakan komplek bangunan lama yang direncanakan dan dibangun pada tahun 1910 dengan fungsi penyelenggararan pameran tetap. Bagian selatan merupakan komplek bangunan baru yang dibangun tahun 1969.
Pemanfaatan Museum Bali sebagai areal untuk menghabiskan waktu luang tentu saja bisa kita lihat dari fungsi museum itu sendiri yang merupakan suatu tempat dimana peninggalan sejarah dari masyarakat Bali pada jaman dahulu disimpan sehingga dengan berkunjung ke Museum bali tidak hanya untuk menghabiskan waktu luang, namun dengan berkunjung kesini dan melihat berbagai koleksi benda-benda sejarah kita bisa mengetahui kebudayaan Bali dan sejarah dari masyarakat Bali. Dari peninggaan benda purbakala ini, pengunjung dapat mengetahui bahwa di Pulau Bali,