Monday, May 10, 2010

Sejarah, Makna dan Rangkaian Hari Raya Galungan

2 komentar
Sehubungan dengan jatuhnya Hari Raya Galungan tiga hari mendatang di Bali, maka saya akan membahas sedikit sejarah mengenai Hari Raya Galungan. Semoga dengan ini mereka yang merayakan semakin mendalami makna yang sebenarnya dari Hari Raya Galungan.

 Sejarah Hari Raya Galungan
Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.
Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali.
Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi.
Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:
Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.
Artinya:
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.
Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba entah apa dasar pertimbangannya pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.
Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu.
Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih.
Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan.
Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan).
Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.


Makna Filosofis Galungan

Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.
Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.
Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. 
Intinya makna hari Raya Galungan adalah kemenangan dharma ( kebaikan) melawan adharma 
( kejahatan )

Rangkaian kegiatan  Hari Raya Galungan
 
Hari raya Galungan merupakan Hari raya Umat hindu di Bali yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali, jadi dalam setahun ada dua kali perayaaan hari Raya Galungan.
Dalam Lontar Sunarigama Hari raya Galungan mepunyai banyak rangkaian kegiatan sebelum maupun sesudahnya antara lain




  • Hari Sugihan Jawa
Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).  Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sugihan Jawa merupakan perayaan dengan persembahyangan  bagi umat Hindu keturunan Majapahit seperti saya dan kebanyakan umat Hindu yang ada di Bali
  • Hari Sugihan bali
Sugihan Bali dirayakan lima hari sebelum Galungan pada Jumat Kliwon Wuku Sungsang  dimana maknanya adalah melakukan penyucian diri sendiri yaitu jasmani dan rohani kita. Disebutkan Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing- masing). Pada Sugihan Bali ini yang merayakan adalah umat hindu Bali Aga ( masyarakat Hindu asli bali ) , Desa Bali Aga yang penduduknya merupakan penduduk tradisional Bali bisa dilihat di daerah Tenganan, Karangasem Bali.
  • Hari Penyekeban
Tiga hari sebelum Galungan jatuh pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan (roh jahat). Dalam lontar itu juga disebutkan “nirmalakena” (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.
  • Hari Penyajaan
Dua hari sebelum Galungan jatuh pada Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi.”  
  • Hari Penampahan Galungan
Sehari sebelum Galungan jatuh pada Anggara Wage wuku Dungulan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut “pamyakala lara melaradan”. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri. Namun kebiasaan umat sekarang adalah melakukan pemotongan korban sehari pada sehari sebelumnya untuk menghemat waktu sehingga pada Penampahan Galungan biasanya cuma membuat sate, lawar dan macam2 makana untuk sesaji.
Pada hari ini juga dilakukan pembuatan Penjor yang merupakan simbol keagungan dari perayaan Hari raya Galungan

  • Hari Raya Galungan
Maka tibalah saatnya Hari yang ditunggu-tunggu umat Hindu di Bali yakni Hari Raya Galungan jatuh pada Buda Kliwon Dungulan adalah hari memperingati terciptanya alam semesta beserta isinya dan kemenangan dharma melawan adharma Umat Hindu melakukan persembahan kehadapan Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara/dengan segala manisfestasinya sebagai tanda puji syukur atas rahmatnya serta untuk keselamatan selanjutnya. Sedangkan penjor yang dipasang di muka tiap-tiap perumahan yaitu merupakan aturan kehadapan Bhatara Mahadewa yang berkedudukan di Gunung Agung.
  • Hari Raya Manis Galungan
Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Sehari setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.
  • Hari Pemaridan Guru
Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa “kadirghayusaan” yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan “matirta gocara”. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.


Sumber: Buku “Yadnya dan Bhakti” oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni

Pengelolaan & Daya Tarik Museum Le Mayeur sebagai Pariwisata Budaya

2 komentar
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Museum, berdasarkan definisi yang diberikan International Council of Museums, adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Karena itu ia bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis, dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran imajinatif di masa depan. Museum adalah tempat dimana kebudayaan dan keseniaan dari jaman daahulu yang bernilai seni tinggi bisa dilihat
Museum adalah tempat dimana kebudayaan dan keseniaan dari jaman dahulu sampai jaman sekarang yang bernilai seni tinggi bisa dilihat. Salah satunya adalah museum Le Mayeur yang menyajikan lukisan-lukisan bergaya impresionis dengan perpaduan kesenian Bali dalam tema lukisan yang terdapat di Museum Le Mayeur.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka ruang lingkup permasalahan dalam penelitian ini dapat dituliskan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pengelolaan Museum Le Mayeur?
2. Apakah yang menjadi daya tarik Museum Le Mayeur?
1.3. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana pengelolaaan Museum Le Mayeur
2. Untuk mengetahui daya tarik yang ada di Museum Le Mayeur.
1.4. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang dapat kita diambil dari penelitan ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Akademis
Secara akademis melalui penelitian ini mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk menambah pengetahuan tentang museum khususnya Museum Le Mayeur dan manajemen pengelolahannya.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat sekitar sehingga bisa mengembangkan potensi yang ada di daerahnya untuk bisa mengelola Museum le Mayeur dan mengembangkannya secara mandiri.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Wisata Budaya
2.1.1 Pengertian Wisata Budaya
Wisata budaya adalah aktivitas pariwisata dengan obyek budaya(Hurrington, 1998, p.212). Adapun deskripsi lebih lengkap dari wisata budaya ini bahwa aktivitas pariwisata dapat dianggap sebagai wisata budaya jika obyekpariwisata ini adalah melingkupi semua budaya-budaya suatu komunitas.
2.1.2. Tujuan wisata budaya
Wisata budaya juga mempunyai serangkaian tujuan tertentu sehingga mendapatkan predikat wisata budaya. Menurut Hurrington (1998, p.215), wisata budaya ini meliputi:
a. Pengenalan karakteristik suatu komunitas
b. Menghidupkan budaya
c. Tujuan-tujuan khusus
2.2 Daya Tarik Wisata Budaya
Menurut Sahertian (2003:1) menyatakan: “Daya tarik sebuah wisata merupakan pesona-pesona yang dapat ditampilkan oleh sebuah obyek wisata.”
2.2.1. Atraksi
Sahertian (2003:2), menyatakan atraksi merupakan sebuah perilaku-perilaku yang bersifat akrobatik yang mampu memberikan perhatian khusus bagipengunjung. Atraksi bisa beragam tergantung pada berbagai kesenian yang dimainkan. Seperti untuk tradisi Tionghoa, maka atraksi ini seperi barongsai, bela diri dan lainnya.
2.2.2. Pembauran
Priyanti (2003:3) menyatakan: “Pembauran adalah perpaduan antara dua budaya atau lebih yang berbeda untuk disatukan dengan tidak menghilangkan cirikhas dari setiap budaya yang bersangkutan.” Pembauran ini bisa berlangsung cepat maupun lambat, dan tergantung pada kemampuan untuk menjiwai setiap nilai budaya yang berbaur.
2.2.3. Produk
a. Pengertian Produk
Menurut Tjiptono (1997:95), produk didefinisikan sebagai “pemahaman subyektif dari produsen atas sesuatu yang bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan masyarakat, sesuai dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli pasar
b. Klasifikasi Produk
Produk dapat diklasifikasikan menurut berbagai sudut pandang seperti klasifikasi berdasarkan wujudnya, daya tahan, dan tujuan konsumsi. Menurut Tjiptono (1997:98), produk berdasarkan wujudnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok utama, yaitu:
♦ Barang
♦ Jasa (Services)
Menurut Tjiptono (1997:98), ditinjau dari aspek daya tahannya, produk dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
♦ Barang tidak tahan lama (nondurable goods)
♦ Barang tahan lama (durable goods)
2.2.4. Promosi
Promosi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu program pemasaran. Betapapun berkualitasnya produk, bila masyarakat belum pernah mendengarnya dan tidak yakin bahwa produk itu akan berguna bagi mereka, maka mereka tidak akan pernah membelinya.
2.3. Sejarah Museum Le Mayeur
Nama Le Mayeur diambil dari nama seorang Pelukis andrien Jean Le Mayeur De Merpres yang lahir pada tanggal 9  Februari 1880 di Ixelles, Brussel, anak bungsu dua bersaudara dari ayah Andrien Le Mayeur De Merpres dan Ibu Louise Di Bosch. Pendidikan terakhirnya di Perguruan Tinggi Politeknik di Universitas Libre, Brussel dan bergelar Insinyur bangunan tetapi lebih menekuni bidang seni lukis.
Dalam meniti karirnya sebagai pelukis, Le Mayeur kemudian melanglang buana ke berbagai belahan  dunia seperti Perancis, Italia, Maroko, Tunisia, Aoljazair, India, Thailand, Kanboja, Tahiti dan akhirnya ke Bali.  Le Mayeur menginjakkan kaki pertama di Bali pada tahun  1932 melalui jalan laut dan mendarat di Singaraja kemudian melanjutkan perjalanan ke Denpasar, dengan menyewa sebuah rumah di Desa Kelandis.  Di tempat inilah kemudian Le Mayeur berkenalan dengan seorang penari Legong bernama Ni Nyoman Pollok kelahiran 03 Mart 1917.  Kecantikan dan keanggunan Ni Pollok  waktu menari menggugah hati Le Mayeur untuk menjadikan Ni Pollok menjadi  model dalam lukisannya. Seiring dengan perjalanan waktu hubungan Le Mayeur dengan Ni Pollok semakin intim dan berlanjut ke jenjang pernikahan.
Ketenaran Le Mayeur makin lama makin meningkat. Hal ini terbukti dengan banyaknya kunjungan-kunjungan dan bahkan dari pejabat tinggi negara seperti Presiden RI pertama Ir. Soekarno, Perdana Menteri India Pandir Jawaharlal Nehru dan lain-lain. Pada tahun 1956 Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan RI yaitu Bahder Djohan berkunjung ke rumah Le Mayeur. Beliau sangat terkesan dengan karya seni Le Mayeur, dan mencetuskan gagasan untuk menjadikan rumah tinggal Le Mayeur sebagai museum agar karya seninya dapat dilestarikan. Gagasan ini disambut baik oleh Le Mayeur maka pada tanggal 28 Agustus 1957 dengan akte hadiah nomor 37 Le Mayeur menghadiahkan hak miliknya kepada Ni Pollok dan pada hari yang sama Ni Pollok sebagai pewaris selanjutnya mempersembahkan kepada Pemerintah Indonesia berdasarkan akte hadiah nomor 38.
2.4. Lokasi Museum
Museum Le Mayeur terletak di tepi Pantai Sanur, termasuk dalam wilayah Banjar Pekandelan, Sanur Kaja. Untuk mencapai lokasi hanya dapat dicapai melalui jalan setapak yaitu pada ujung Jalan Hang Tuah ke kanan ± 70 m. Adapun  batas-batasnya adalah sebagai berikut:
- Sebelah Timur: Pantai Sanur
- Sebelah Barat: Penginapan Ni Pollok
- Sebelah Utara: Pura Dalem / Hotel Dewangkara
- Sebelah Selatan: Hotel Grand Bali Beach.
2.5. Transportasi
Jarak tempuh museum Le Mayeur dengan tempat-tempat penting lainnya seperti
- museum - Denpasar ± 7 km (± 15 menit perjalanan)
- museum - Bandara Ngurah Rai ± 14 km (30 menit perjalanan)
- museum - Gilimanuk ± 141 km (± 2 jam perjalanan)
- museum - Padang Bay ± 60 km (± 1 jam perjalanan)
- museum - Terminal Ubung ± 10 km (± 20 menit perjalanan)
- museum - Terminal Kreneng ± 5 km (± 10 menit perjalanan)
- museum - Terminal Batubulan ± 7 km (± 15 menit perjalanan)
- museum - Kuta ± 15 km (± 45 menit perjalanan).
2.6. Koleksi
Koleksi utama museum Le Mayeur adalah berupa 88 buah lukisan  karya maestro terkenal  berkebangsaan Belgia yaitu Andrien Jean Le Mayeur de Merpres dengan aliran/gaya impresionis. Dari 88 buah lukisan tersebut:
04 buah dibuat pada tahun 1921, 04 buah dibuat pada tahun 1927, 03 buah dibuat pada tahun 1928,28 buah dibuat pada tahun 1929,03 buah dibuat pada tahun 1930,14 buah dibuat pada tahun 1938,23 buah dibuat pada tahun 1942, dan10 buah dibuat pada tahun 1957.
47 lukisan mengambil tema Bali, sedangkan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut;28 buah diatas kanvas,25 buah diatas hand board, 06 buah diatas tripleks,07 buah diatas kertas dan22 buah diatas Bagor.
2.7. Pengelolaan Museum
Pada awal tahun 50-an, kondisi kesehatan Le Mayeur mulai menurun. Pada tanggal 27 Mei 1958 Le Mayeur Sang Maestro ygn berusia 78 tahun itu meninggal dunia dan jenasahnya dimakamkan di pemakaman keluarga Ixelles, Brussel. Pengelolaan selanjutnya dialkukan oleh Ni Pollok. Pada tanggal 27 Juli 1985 Ni Pollok meninggal dunia, maka perusahaan seni lukis ditinggalkannya kini milik Pemerintah Indonesia yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Propinsi Bali.
Saat ini Museum Le Mayeur dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Bali. Pemeliharaan daya tarik wisata Museum Le Mayeur ini rutin dilakukan oleh pegawai-pegawai museum setempat seperti melakukan pembersihan gedung dan benda-benda yang dipamerkan secara berkala. Pengelolaan Museum Le Mayeur ini juga mengambil dana melalui retribusi atau pungutan biaya masuk ke museum yang bisa rincian sebagai berikut ;
- Perorangan (1 -- 9 orang)
- Anak-anak: Rp 1.000,-/orang
- Dewasa     : Rp 2.000,-/orang
- Rombongan (10 orang ke atas)
- Anak-anak: Rp     500,-/orang
- Dewasa     : Rp 1.000,-/orang
Jadwal Kunjungan :
Sabtu - Kamis : 08.00 - 15.00 WITA
Jumat               : 08.00 - 12.30 WITA
Tutup                : Libur resmi.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Museum Le Mayeur merupakan salah satu museum terbaik dengan pengelolaan yang baik di bawah Pemerintah Daerah Propinsi Bali dengan koleksi 88 lukisan dari sang maestro Le Mayeur. Semua lukisan itu merupakan karya terbaik dan curahan hati beliau yang dilukis dalam berbagai instrument.
Museum Le Mayeur sangat layak dikunjungi sebagai bentuk dari kepedulian akan budaya Bali yang semakin pudar oleh jaman dan sebagai suatu inspirasi untuk pelukis-pelukis muda di Bali agar bisa bersaing dan melesatrikan budaya bali melalui seni dan budaya.

Saturday, May 8, 2010

Taman Ujung " Pearl from the east of Bali "

1 komentar
Sejarah:
Istana Air Ujung, yang oleh masyarakat setempat disebut Taman Soekasada
Ujung dibangun pada tahun 1919. Namun, peresmian kompleks istana air ini
dialkukan pada tahun 1921.
Istana air yang dikonstruksi oleh raja terakhir Karangasem, I Gusti Bagus
Jelantik, yang memerintah di Karangasem antara 1909 dan 1945.
Taman Ujung dibangun untuk menyambut dan melayani tamu-tamu penting dan
raja-raja dari negara retangga, disamping sebagi tempat untuk raja dan
keluarga kerajaan.
Lokasi:
Taman Sukasada Ujung terletak di Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem-sekitar
85 km dari Bandar Udara Ngurah Rai atau 5 km dari Amlapura.
Fasilitas:
Aktifitas pariwisata di daerah ini antara lain: warung makan, restoran
kecil, dan areal parkir yang luas. Para wisatawan yang tertarik dengan
produk kerajinan lokal dapat menemukannya di beberapa toko seini yang ada
di sini.
Deskripsi:
Taman Soekasada Ujung telah diumumkan sebagai objek wisata budaya mengingat dianggap sebagai satu dari warisan budaya yang ada di Kabupaten Karangasem.
Kompleks Taman Soekasada Ujung merupakan kombinasi dari arsitektur Bali dan Eropa. Terdapat tiga kolam besar dan luas di daerah ini. Di tengah kolam utama, terdapat bangunan yang menghubungkan sisi-sisi kolam dengan
dua jembatan.
Pada kompleks tertinggi, kita akan menemukan patung "warak" (badak). Di bawah wark adalah patung banteng. Dari tempat tinggi ini kita bisa melihat pemandangan laut yang mengagumkan dengan hutan yang menghijau, keindahan Gunung Agung yang dikombinasikan dnegan persawahan yang hijau.
Kemegahan Taman Ujung telah dirusak akibat meletusnya Gunung Agung pada
tahun 1963 dan diperburuk dengan gempa bumi pada tahun 1979. Namun,
penyelematan telah dilakukan untuk membawa kembali kejayaan kompleks
istana air ini dengan merekonstruksi dan merevitalisasinya. Meskipun
tidak seutuh dulu, namun kemegahannya terlihat sampai sekarang.

Friday, May 7, 2010

Bidding For a Convention

3 komentar

Bidding adalah suatu dokumen yang berisi permohonan resmi pengajuan penyelenggaraan suatu konvensi. Suatu penawaran untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan konvensi. Penawaran diwujudkan dalam suatu bentuk dokumen bidding, berupa proposal yang isinya mengandung kesediaan dan kesanggupan untuk menyelenggarakan konvensi yang di maksud. Secara singkat proses terjadinya konvensi adalah sebagai berikut: convener, sebagai penyelenggara konvensi dan pengambilan keputusan tertinggi menerima pertanggung jawaban pelaksanaan konvensi. Setelah itu convener membentuk panitia pengarah dan kepanitiaan pelaksana.masing-masing disingkat SC dan OC, yang mendampinginya dalam pertanggungjawaban penyelenggara konvensi. Pengajuan bidding dilakukan secara mengirim surat resmi kepada convener dilengkapi isi proposal bidding.

3.4.1.   Persyaratan bidding
Dalam buku petunjuk penelenggaraan konvensi di Indonesia 1997-1998, direktur Jenderal pariwisata menerbitkan persyaratan bidding sebagai berikut:
1.      Harus diketahui siapa pengambil keputusan (decision maker) dari penyelenggara MICE dengan mengajuka suatu bidding.
2.      dokumen bidding harus mengandung :
·         Surat pengantar sponsor.
·         Pesan pejabat instansi terkait dengan penyelenggaraan MICE tersebut.
·         Keterangan perihal fasilitas penyelenggaran MICE yang tersedia.
·         Perkiraan biaya,program-program,kemudahan-kemudahan dalam penyelenggaran MICE
3.      Bila bidding disetujui maka di bentuklah Komite Pengarah yang menerima saran dan asistensi dari :
·         Perusahaan penerbangan(airlines)
·         Pejabat Pariwisata(Tourism authorities)
·         Biro konvensi(cnventon Bureau)
·         Konsultan profesional(Proffesionl Consultan)
4.      Rincian maksud dan tujuan (Objektives) MICE untuk mengetahui :
·         Perkiraan jumlah peserta
·         Susunan acara keseluruhan(persidangan,pameran,events resmi,maupun sosial,program untuk para istri dan anak-anak serta tamu-tamuVIP)
·         Penetuan lokasi(venue)
·         Penentuan jadwal
·         Penyusunan anggaran semntara.
5.      Pembentuksn komite Pelaksana (Organizing Comittee) serta sekretariat dan sub komitenya.
3.4.2.      Aspek-aspek Bidding
Bidding ditandatangani oleh pimpinan tertiunggi calon penyelenggara kegiatan persidangan konvensi, didukung oleh pejabat pemerintah terkait dengan industi pariwisata, sponsor serta perusahaan transportasi lokal maupun Internasional.
3.4.2.1. Aspek Teknis
Lokasi(venues) persidangan memang patut dan mampu untuk menampung berbagai kegiatan dengan peralatan modern yang di lengkapi dengan ruang sidang umum, sidang komisi, press room untuk media massa, kantor panitia, banquet room, ruang pertunjukan, juga ada venues untuk pameran, pesta dan resepsi. Mudah dicapai dari dan ke bandar udara.
3.4.2.2. Aspek Tansportasi
Jaringan transportasi anatra bandar udara, hotel, lokasi persidangan dan objek-objek darmawisata.
3.4.2.3. Aspek Organisasi
Memiliki perancang,manajer dan kordinator persidangan yang mempunyai akses dengan perusahaan transportasi,properti akomodasi,di dukung oleh masyarakat seni budaya dan bisnis industri pariwisata.
3.4.2.4. Aspek Finansial
Menyajikan harga-harga yang wajar, transfer peserta, free transport pas masuk objek-objek wisata, resepsi gala evening dari sponsor.

3.5.            Organisasi Yang Terlibat Menangani Wisata Konvensi
3.5.1.      PCO ( Professional Convention Organizer )
            Suatu badan hukum, perseorangan atau sekelompok orang yang tugasnya merencanakan, mempersiapkan dan mengkoordinir penyelenggaraan suatu konvensi secara professional. PCO pada umumnya betindak mejadi konsultan bagi komite penyelenggara atau pelaksana.
3.5.2.      PEO ( Professional Exhibition Oerganizer )
            Suatu badan hukum atau perseorangan atau sekelompok orang yang tugasnya merencanakan, mempersiapkan dan menyelenggarakan suatu pameran secara professional.
            Menurut keputusan Menparpostel nomor KM. 108 HM. 703/ MPPT.1991 dan Keputusan Dirjen Pariwisata nomor Kep-06/U/IV/1992; ruang lingkup tugas dari POC dan PEO adalah :
·         Merencakan dan dapat melaksanakan penawaran ( bidding )
·         Menyusun perencanaan dan anggaran penyelenggaraan konvensi, perjalanan insintive dan pameran.
·         Menyelenggarakan kegiatan kesekretariatan atau penyelenggaraan konvensi, perjalanan insentive dan pameran.
·         Mengkoordinasikan penyelenggaraan transportasi.
·         Menyiapkan tempat peyelenggaraan
·         Mengkoordinasikan keperluan akomodasi
·         Mengkoordinasikan kegiatan public relation dan promosi
            mempersiapkan penyelenggaraan pra dan pasca konvensi seta proram-program lainnya untuk mendampingi delegasi/peserta beserta pendamping yang mereka ikutkan
·         Mengkoordinasikan kemudahan prosedur bead an cukai, inigrasi dan karantina ( CIQ ) bagi peralatan konvensi dan pemeran
·         Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan lainnya terkait dengan kebutuhan para delegasi, perjalanan insentif dan pameran.
·         Mengurus perijinan penyelenggaran konvensi maupun pameran.
3.5.3.      Steering Commite ( Komite Pengarah )
Sekelompok orang yang tugasnya memberikan pengarahan suaru kegiatan seperti penyelenggaraan konvensi.
3.5.4.      Orgnising Commite ( Komite Pelaksana )
Sekelompok orang yang menjadi anggota panitia dengan tugas merancanakan, mempersiapkan dan  menyelenggarakan suatu kegiatan.
3.5.5.      Meeting Planner ( Perancang Pertemuan )
Mengemban tugas untuk membuat rancangan secara rinci prihal lokasi, peserta, jenis dan ukuran persidangan. Maka dengan demikian perancangan ini dimasukkan/digolongkan dalam tugas penjualan dan pemasaran yang sanggup menangani masalah-masalah konvensi dan konferensi.


3.6.1.      Persiapan Suatu Bidding
·      Harus diketahui siapa decision makers dari orgnisasi yang akan menyelenggarakan konvensi
·      Jika ingin menyelenggarakan sebuah konvensi, sebelumnya kita harus membuat suatu bidding (penawaran/invitasi). Pengajuan suatu bid dapat berupa :
-          Surat Resmi
-          Bid document
-          Secara lisan
Bid Document adalah sebuah proposal yang diajukan oleh sebuah destinasi atau industri kepada sebuah grup/kelompok untuk bertemu di tempat terselenggaranya acara (konvensi). Dengan kata lain, Bid Document sebagai sebuah pendahuluan dari sebuah kota atau negara agar bisa menjadi tuan rumah/penyelenggara sebuah konvensi internasional maupun nasional. Bid Document berisi informasi mendetail tentang :
-          Surat pengantar dari organisasi yang akan mensponsori.
-          Perkiraan biaya penyelenggara konvensi (bila diperlukan).
-          Akses menuju destinasi.
-          Penjelasan mengenai akomodasi.
-          Tempat-tempat konvensi besert fasilitas-fasilitasnya.
-          Gambaran umum mengenai program-program sementara yang akan diadakan.
-          Pilihan untuk melakukan perjalanan/tour di destinasi, baik sebelum maupun sesudah konvensi.
-          Kemudahan-kemudahan khusus yang ditawarkan oleh destinasi, seperti biaya perjalanan, penyewaan tempat, dll.
-          Biaya hidup selama di destinasi.
Bid Document dipersiapkan oleh pihak-pihak yang menjadi penyelenggara konvensi, seperti :
  1. CVB (Convention and Visitors Bureau)
Bid dipersiapkan oleh bagian sales marketing dari biro tersebut sampai dokumen tersebut ditindaklanjuti oleh penerima.
  1. Asosiasi lokal/setempat
Asosiasi ini bertugas untuk mempersiapkan detail mengenai organisasi, kemudian ditujukan kepada biro konvensi untuk melengkapi bid document.
            Suatu proses pengajuan Bid untuk konvensi taraf internasional dimulai dari pendekatan perwakilan biro kepada klien dari luar negeri untuk menyelenggarakan konvensi di sebuah kota atau negara. Pendekatan ini dimulai dengan :
-          Kontak telepon dari perwakilan biro kepada klien.
-          Perwakilan biro menghadiri konvensi/eksibisi/pertunjukan dagang yang diselenggarakan pihak klien.
Bid Document yang telah selesai disusun atau diajukan kemudian akan dipresentasikan. Presentasi Bid berlangsung dengan singkat selama 30 menit dan dipresentasikan dengan baik untuk menerima pengaruh yang maksimal/terbaik dari peserta atau klien. Berikut ini adalah faktor-faktor penentu keberhasilan suatu bidding :
-          Presentasi Bid dibawakan dengan baik dan profesional sebagai petunjuk kemampuan suatu daerah untuk menjadi tuan rumah penyelenggara konvensi.
-          Mengetahui kelebihan maupun kekurangan dari kota atau negara pesaing sehingga kita bisa meningkatkan lagi kelebihan dari destinasi yang mengajukan bidding.
-          Melobi/mempengaruhi yang membuat keputusan dari suatu asosiasi atau pihak yang kita ajukan bidding. Dalam hal ini, kota atau negara yang mengajukan bidding harus berhubungan dengan perwakilan pemerintahan, seperti kedutaan besar atau konsultan asing, dan perwakilan dari CVB yang terdapat di negara atau kota tempat Bid tersebut dibuat.

Monday, May 3, 2010

Pengaruh Pariwisata Terhadap Pola Tata Ruang Dan Bangunan Tradisional Bali

2 komentar


Kepariwisataan merupakan jenis industri yang sangat berperan dalam meningkatkan pendapatan suatu negara khususnya bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Negara Republik Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki alam dan budaya yang sangat beraneka ragam dimana salah satu pulaunya yaitu Bali sangatlah terkenal di seluruh dunia akan keindahan alam dan kaya akan budayanya. Potensi ini kemudian dijadikan aset oleh Bali khususnya Kabupaten Karangasem untuk mengembangkan kepariwisataan di daerahnya sekaligus untuk menambah atau meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Kabupaten Karangasem Bali dikenal memiliki keindahan alam yang cukup spesifik dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Bali terutama pada kawasan pariwisata Candidasa. Kawasan ini dengan ketetapan pemerintah melalui RTRW No. 11 tahun 2000 dijadikan sebagai kawasan pariwisata yang harus dijaga keindahan alam dan potensi wisatanya. Kawasan ini juga memiliki pola tata ruang tradisional yang masih sangat kuat sebagai identitas diri kawasan yang sangat dibanggakan oleh masyarakatnya. Berkembangnya kepariwisataan di kawasan ini membawa pengaruh yang cukup kuat terhadap pola tata ruang tradisional Bali yang dimilikinya. Sejauh mana pengaruh pariwisata tersebut terhadap pola tata ruang dan bangunan tradisional Bali pada kawasan pariwisata Candidasa?.
Hal ini tentu sangat menarik untuk diteliti. Pengaruh yang terjadi adalah merupakan perubahan atau akulturasi terhadap pola tata ruang dan bangunan tradisional Bali, namun perubahan tersebut hanya pada bentuk dan fungsi saja, sedangkan makna (filosofi pola tata ruang dan bangunan tradisional Bali) tetap eksis. Berdasarkan hasil penelitian pengaruh parwisata terhadap tata ruang dan bangunan tradisional Bali di kawasan pariwisata Candidasa sampai saat ini belumlah mengganggu dan merubah tata ruang dan bangunan secara global. Hal ini dikarenakan konsep filosofi membangun (Tri Hita Karana) menjadi model dalam setiap pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat lokal maupun seluruh pelaku pariwisata. Namun perubahan tersebut harus selalu di pantau keberadaannya, sehingga diharapkan perkembangan kepariwisatan tidak akan merusak budaya tradisional yang dimiliki oleh masyarakat. Perubahan yang terjadi diharapkan menjadi acuan dan pengetahuan bagi pemerintah untuk melakukan pembangunan kepariwisataan ke depan, sehingga konsep “pembangunan kepariwisataan yang berbudaya” yang menjadi model dan alat dalam pembangunan kepariwisataan Bali dapat tetap terjaga.